BEA CUKAI GAGALKAN EKSPOR & IMPOR ILEGAL DI BANDARA SOEKARNO HATTA

Posted on 6 November 2011

0


Upaya penyelundupan (eksport) ke Hongkong satwa dan tanaman di lindungi berupa kuda laut kering dan tanaman gaharu senilai Rp.1,28 miliar digagalkan aparat Bea Cukai Bandara Internasional Soekarno Hatta,Sabtu (5/11).

Menurut Kepala Bea Cukai Bandara Soetta, Oza Olavia, terungkapnya eksport satwa dan tanaman yang di lindungi itu berkat kecurigaan petugas sekuriti angkasa pura II dan KPPBC Tipe madya pabean Soekarno Hatta terhadap paket kiriman eksport tujuan Hongkong.

Isi paket itu diberitahukan sebagai makanan dikirim melalui kantor tukar pos udara dengan penerima MYS. “Ketika paket itu dibuka petugas, ternyata berupa kuda laut kering seberat 14 Kg yang belum memenuhi CITES,” jelas Oza sambil mengatakan paket ini dikirim 23 Oktober 2011. Kuda laut banyak di manfaatkan obat tradisonal di Tiongkok antara lain untuk vitalitas seksual dan stamina tubuh.

Sedangkan  eksport olahan kayu Gaharu seberat 100 kg diperkirakan senilai Rp 1 miliar karena harga 1 kg mencapai Rp 10 juta. Paket kiriman ini kiriman dari CV. STL tujuan Bahrain diberitahukan sebagai Indonesia Labdonum atau getah damar. Saat diperiksa petugas ditemukan 5 kaleng cat berisi masing-masing 20 Kg olahan kayu gaharu berbentuk pasta warna hitam yang belum dilengkap sertifikat CITES.

Selain itu petugas juga berhasil mencegah import ratusan ekor kura-kura, buaya, iguana, ular, kadal dan tokek yang dibawa oleh warga negara Mesir berinisial ATAT.
Tersangka, kata Oza, menumpang pesawat Emirates Airline Nomor penerbangan EK- 356 rute Dubai-Jakarta. Pesawat yang ditumpangi tersangka mendarat di terminal 2 D bandara Soetta 4 November pukul 16.00.

Petugas Bea Cukai mencurigai barang bawaan tersangka dalam koper. Setelah dibuka ternyata koper berisi ratusan satwa hidup terbungkus dalam karung terbuat dari kain. kura-kura 464 ekor, buaya kecil 10, iguana 17, ular 78, kadal 254, tokek 71 ekor. Satwa ini dimasukan dalam bagasi penumpang dan tidak diberiahukan dalam pabean serta tak ada sertifikat karantina dari negara asal. “Total satwa ini seharga Rp 765 juta,” tegas Oza didampingi kasi penindakan dan penyidikan Gatot Sugeng Wibowo,SH.

Tersangka pelaku eksport kuda laut dan kayu gaharu dinilai melanggar UU RI no.5 tahun tahun 1990 tanggal 10 Agustus 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya khususnya pasal 21 ayat 2 diancam hukuman 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Untuk tersangka pengimport satwa, kata Oza, dikenakan pelanggaran pasal 102 dan 102 A. UU No.17 tahun 2006 tentang perubahan atas UU No.10 th 1995 tentang kepabeanan dengan ancaman pidana 1 th hingga 10 tahun dan denda dari Rp 50 juta hingga Rp 5 miliar. [ Sumber ]

Posted in: Nasional