GAPEKSU: ANGKASA PURA MONOPOLI BISNIS KARGO

Posted on 9 November 2011

0


Sejumlah pengusaha ekspedisi pesawat udara, mengeluhkan aturan PT Angkasa Pura I Makassar yang menetapkan kenaikan tarif konsesi 40 persen.Peningkatan tersebut menuai kritikan dari beberapa Pengusaha expedisi yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Expedisi Peswat Udara (Gapeksu).

Mereka menilai, tindakan itu monopoli bisnis kargo di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Ketua DPD GAPEKSU Sulsel, Mursalim, Selasa (8/11) menjelaskan, monopoli itu sangat merugikan beberapa pengusaha expedisi udara di Sulsel.

Kebijakan tarif konsesi itu tanpa didasari UU No 1 tahun 2009 tentang kenaikan tarif yang disesuaikan jasa pelayanan bandara udara.

“Kami telah membayar sewa gudang, jasa, dan fasilitas termasuk listrik, dan telepon pada Angkasa Pura,” tegasnya.

Anehnya, kami kaget adanya berita acara yang mengharuskan kami menandatangani biaya tarif kenaikan konsesi cargo Rp25/kg, dan Incoming Cargo Rp 15/kg.
”Jika tak dipatuhi, kita akan diusir dari Bandara Internasional Hasanuddin,” ungkapnya.

Berita acara yang di kirim ke GAPEKSU, lanjut Mursalim, ada kejangalan. Keputusan itu hanya engacu kontrak kerja bukan mengacu tataran regulasi UU yang terkait penyediaan jasa di Bandara Udara.

Dia menambahkan, pemberlakuan sepihak Angkasa Pura I bakal mematikan bisnis expedisi.
Kami berharap, Pemprov Sulsel menfasilitasi kami terkait kenaikan konsensi tersebut.

Menanggapi keluhan itu, General Manager Terminal Cargo Bandara Sultan Hasanuddin, Nursapto Winoto, mengungkapkan, konsesi adalah hak pengelolaan suatu usaha di Bandara.

“Kami tidak melakukan monopoli bisnis. Kami hanya menata, bukan cuma pengusaha dikenakan biaya. Buktinya, pihak Angkasa Pura juga dikenaka biaya konsesi,” ujarnya
Menurutnya, selama ini biaya konsesi, ada di kantor Cabang Bandara dan bukan dikelola Angkasa Pura.

“Gapeksu itu kan organisasi ekspedisi, dan yang mengirim barang adalah pengusaha. Semua itu tidak memiliki pengaruhnya karena semaunya, itu murni bisnis,” tegasnya. Kita harus mampu membedakan antara pengusaha dan perusahaan ekspedisi, ujarnya.

Sumber http://www.ujungpandangekspres.com/index.php?option=read&newsid=75518

Posted in: Top News